AS akan Pecah Saudi Jadi Tiga

Pergolakan politik membuat AS kehilangan kendali di Dunia Arab.

JAKARTA-Kerajaan Arab Saudi menjadi sasaran gelombang demokratisasi berikutnya yang telah diskenariokan Amerika Serikat (AS). Dari dokumen bertajuk “Perpecahan: Menuju Timur Tengah Baru” yang disebut-sebut milik Pemerintah AS, diungkapkan bahwa Arab Saudi menjadi target besar AS untuk diiris-iris menjadi tiga negara berbeda yang akan dikuasai anggota Dinasti al-Saud.

“Dalam beberapa hari terakhir, AS sibuk mengimplementasikan program ‘Timur Tengah Baru’ yang indikasinya akan segera muncul,” kata sumber AS seperti ditulis majalah mingguan Lebanon, al-Manar, yang dikutip kantor berita semiresmi Iran, Fars, Sabtu (14/5).

Dikatakan Fars, program Timur Tengah Baru versi AS ini akan dilaksanakan bertahap dan perlahan-lahan, yang didukung propaganda pencitraan yang akan menilai Paman Sam sebagai juru penyelamat dan penyelesai masalah. Berikutnya, propaganda yang mengarahkan masyarakat regional akan mematuhi seruan demokrasi ala AS tersebut.

Sumber itu menambahkan, langkah Amerika Serikat berikutnya adalah menciptakan berbagai kriteria baru di negara serta mengubah demografi di sebagian negara. Program itu dimaksudkan untuk memperkuat kubu negara-negara Sunni dalam melawan kaum Syiah di kawasan yang pada akhirnya akan melemahkan dunia Islam.

Fars melaporkan, Dunia Arab dan kawasan Timur Tengah selama berbulan-bulan menyaksikan berbagai peristiwa dan transformasi yang akan mengubah perimbangan politik kawasan. Amerika Serikat menggunakan kesempatan tersebut untuk berselancar di atas gelombang transformasi itu untuk merealisasikan tujuan-tujuan ekonomi politiknya.

Menanggapi ini, sumber-sumber itu kepada al-Manar menegaskan bahwa negara-negara Arab di Teluk Persia, termasuk Saudi, sangat mengkhawatirkan munculnya revolusi rakyat. Rezim-rezim Arab akan mengambil berbagai langkah dalam mengamankan kekuasaan mereka dari ancaman revolusi rakyat. Namun, upaya tersebut, tulis al-Manar, tetap tidak akan mencegah Amerika Serikat mengimplementasikan programnya dalam memecah Arab Saudi menjadi tiga negara baru.

Mungkin tak mungkin
Pengamat Timur Tengah dari Universitas Islam Negeri Kalijaga, Ibnu Burdah, mengatakan, pecah belah mungkin saja dilakukan negara adikuasa tersebut. Mengacu pada realitas di kawasan Teluk kini, Burdah menilai, skenario itu sudah mulai menjadi kenyataan yang tak terbantahkan.

Menurut dia, negara-negara di Timur Tengah kini seakan terombang-ambing dan berada di persimpangan jalan. Bahkan, benih perpecahaan di antara negara di kawasan itu sudah amat terlihat jelas. “Ini tidak terlepas dari skenario dan kepentingan imperialisme Barat. Masuk akal jika AS melakukan hal-hal strategis untuk kepentingannya,” kata Burdah, Ahad (15/5).

Menanggapi kemungkinan AS membagi Arab Saudi menjadi tiga negara baru, hal itu dinilai penting dilakukan AS untuk mempertahankan status quo-nya. Burdah menjelaskan, banyaknya pergolakan di negara Arab yang kini terjadi, telah membuat AS kehilangan kendali terhadap wilayah penghasil minyak itu.

Pengamat internasional, Dewi Fortuna Anwar, meragukan skenario AS itu. “Selama ini Washington paling setia mendukung keluarga Ibnu Saud (penguasa Saudi) dalam mempertahankan kekuasaan,” katanya.

AS, menurut Dewi, justru ingin Arab Saudi tetap dikuasai kaum Sunni dan menjadi sahabat dekat negara Paman Sam itu. Selain karena sumber daya minyak yang dimiliki, juga sebagai faktor geopolitik untuk mengimbangi Iran.

Ia mencontohkan, hal itu terlihat jelas dari cara AS menangani pergolakan politik di Bahrain. Negara itu dan Barat, papar Dewi, tidak melakukan tekanan berlebihan pada Pemerintah Bahrain. AS juga mendiamkan ulah Arab Saudi yang mengirim pasukan ke Bahrain untuk menghadapi para penguasa yang rata-rata berasal dari kaum Syiah. “Ini karena pemerintahnya Sunni dan masyarakat Syiah yang didukung Iran,” jelas Dewi. ed: asep nur zaman

Bermula dari Bouazizi
Arus reformasi berhembus kian kencang di kawasan Timur Tengah. Siapa sangka bahwa semua ini bermula dari seorang pedagang buah dan sayur di Tunisia, bernama Mohammed Bouazizi (26 tahun).

TUNISIA
Mohammed Bouazizi adalah sarjana pengangguran. Polisi menyita dagangannya karena dinilai berjualan secara ilegal. Ia memprotes dengan membakar diri dan meninggal 4 Januari 2011. Massa pun bergerak dan mengguncang Tunisia. Korban tewas diperkirakan 250 orang. Presiden Zine al-Abidine Ben Ali yang memerintah Tunisia 23 tahun, kabur ke Arab Saudi.

MESIR

Unjuk rasa juga menulari Mesir yang selama ini dinilai relatif stabil. Total sekitar 850 orang tewas dalam unjuk rasa yang terjadi di sejumlah kota terutama Kairo dan Alexandria. Pada 11 Februari, Presiden Husni Mubarak menyatakan mundur setelah berkuasa 30 tahun. Pada April 2011, Mubarak, istri, dan dua putranya ditahan.

LIBYA

Arus reformasi berhembus mulai Januari 2011. Namun, pemimpin Libya, Kolonel Muamar Qadafi yang memerintah sejak 1969 menolak lengser. Kubu oposisi mulai mengambil alih kotakota. Berbekal Resolusi Dewan Keamanan PBB, pasukan koalisi Barat memulai serangan atas Libya pada 19 Maret. Korban tewas diperkirakan 10 ribu orang.

BAHRAIN

Negeri yang dipimpin Sheikh Hamad bin Isa al Khalifah ini dipimpin oleh kubu minoritas Muslim Sunni. Kubu mayoritas yaitu Muslim Syiah, menuntut perlakuan setara dan kebebasan berpolitik lebih luas. Aksi massa dimulai Februari 2011 dan sekitar 30 orang tewas. AS bersikap lunak kepada Bahrain, pangkalan Armada ke-5 Angkatan Laut AS.

YAMAN

Gerakan massa juga muncul di Yaman, salah satu negeri paling miskin di Timur Tengah. Presiden Ali Abdullah Saleh yang berkuasa selama 28 tahun, menolak lengser. Korban bentrokan pemerintah dan kubu oposisi mencapai ratusan orang. Yaman adalah mitra utama AS dalam perang melawan terorisme.

SURIAH
Saat menjabat sebagai presiden pada 2000, Bashar al-Assad menjanjikan keterbukaan dan reformasi. April 2011, status darurat yang berlaku sejak 1963 dicabut. Hal ini belum memuaskan tuntutan massa. Diperkirakan 500 orang tewas sejak aksi massa mengguncang negeri ini beberapa bulan lalu.

ARAB SAUDI
Inilah negeri terkaya di Timur Tengah dengan ambisi menjadi kekuatan hegemoni regional. Pada Maret 2011, protes massa resmi dilarang setelah sejumlah unjuk rasa kecil kaum Syiah sempat mencuat. Raja Abdullah mengingatkan, ancaman pada keamanan dan stabilitas negara tak akan ditoleransi. (rep-koran)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s