Surat Sorang Ibu Kepada Anaknya

Dari: Ibu yang selalu menanti dan berharap

Buat: Anakku tercinta di bumi Allah ta’ala

“Kutitipkan Surat Ini Untukmu”

Segala puji ibu panjatkan kehadirat Allah ta’ala yang telah memudahkan ibu untuk beribadah kepadanya. Shalawat serta salam ibu sampaikan kepada Nabi Muhammad shallahu wa alaihi wassalam, keluarga dan para sahabatnya.

Wahai anakku,

Surat ini datang dari ibumu yang selalu dirundung sengsara. Setelah berpikir panjang, ibu mencoba untuk menulis dan menggoreskan pena, sekalipun keraguan dan rasa malu menyelimuti dirinya. Setiap kali menulis, setiap itu pula gores tulisan terhalangi oleh tangis. Dan setiap kali menitikkan air mata, setiap itu pula hati terluka…

Wahai anakku,

Sepanjang masa yang telah engkau lewati. Kulihat engkau telah menjadi laki – laki yang dewasa, laki-laki yang cerdas dan bijak!! Karenanya, engkau pantas membaca tulisan ini. Sekalipun nantinya, engkau akan remas kertas ini lalu engkau robek-robek. Sebagaimana sebelumnya engkau telah remas hati ibu dan telah engkau robek pula perasaannya…

Wahai anakku,

25 tahun telah berlalu, dan tahun-tahun itu merupakan tahun kebahagiaan dalam kehidupanku. Suatu ketika dokter datang menyampaikan tentang kehamilanku, dan semua ibu sangat mengetahui arti kalimat tersebut. Bercampur rasa gembira dan bahagia dalam dirinya, sebagaimana ia adalah awal mula dari perubahan fisik dan emosi ibu. Semenjak kabar gembira tersebut, aku membawamu sembilan bulan. Tidur, berdiri, makan dan bernafas dalam kesulitan. Akan tetapi itu semua tidak mengurangi cinta dan kasih sayangku kepadamu, bahkan ia tumbuh bersama berjalannya waktu.

Aku mengandungmu Wahai Anakku!!! pada kondisi lemah diatas lemah. Bersamaan dengan itu, aku begitu gembira. Tatkala merasakan melihat terjangan kakimu, atau balikan badanmu di perutku. Aku merasa puas, setiap aku menimbang diriku karena semakin hari semakin bertambah berat perutku. Berarti dengan begitu engkau sehat wal’afiat di dalam rahimku anakku.

Penderitaan yang berkepanjangan menderaku, sampailah tiba pada fajar pada malam itu. Yang aku tidak bisa tidur sekejappun. Aku merasakan sakit yang tidak tertahankan dan dera rasa takut yang tidak bisa dilukiskan.

Sakit itu berlanjut!!! Sehingga membuatku tidak lagi dapat menangis. Sebanyak itu pula aku melihat kematian dihadapanku. Hingga tibalah waktunya engkau keluar kedunia, engkau lahir!!! Bercampur air mata kebahagianku, dengan air mata tangismu. Ketika engkau lahir, menetes air mataku. Air mata bahagia!!! Sirna semua keletihan dan kesedian. Hilang semua sakit dan penderitaan. Bahkan kasihku kepadamu semakin bertambah dengan bertambah kuatnya sakitku. Aku raih dirimu, sebelum aku meraih minuman. Aku peluk cium dirimu, sebelum meneguk satu tetes air yang ada di kerongkonganku.

Wahai anakku,

Telah berlalu tahun dari usiamu. Aku membawamu dengan hatiku. Memandikanmu dengan kedua tangan kasih sayangku. Sari pati hidupku, aku berikan kepadamu. Aku tidak tidur demi tidurmu. Berletih demi kebahagianmu. Harapanku pada setiap harinya, agar aku selalu melihat senyumanmu. Kebahagianku setiap saat adalah permintaanmu agar aku berbuat sesuatu untukmu. Itulah kebahagianku!!!

Lalu berlalulah waktu. Hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun. Selama itu pula aku setia menjadi pelayanmu yang tidak pernah lalai, menjadi dayangmu yang tidak pernah berhenti dan menjadi pekerjamu yang tidak pernah lelah serta mendoakan selalu kebaikan dan taufik untukmu. Aku, selalu memperhatikan dirimu hari demi hari. Hingga engkau menjadi dewasa. Badanmu yang tegap, ototmu yang kekar, kumis dan jambang tipis telah menghiasi wajahmu. Telah menambah ketampananmu wahai anakku.

Tatkala itu aku mulai melirik. Kekiri dan kekanan demi mencari pasangan hidupmu. Semakin dekat hari perkawinanmu anakku, semakin dekat pula hari kepergianmu. Tatkala itu hatiku terasa teriris-iris. Air mataku mengalir, entah apa rasanya hati ini. Bahagia telah becampur dengan duka. Tangis telah bercampur pula dengan tawa. Bahagia karena engkau mendapatkan pasangan. Karena engkau telah mendapatkan jodoh. Kau telah mendapatkan pendamping hidup. Sedangkan sedih, karena engkau adalah pelipur hatiku yang akan berpisah sebentar lagi dari diriku.

Waktupun berlalu seakan-akan aku menyeretnya dengan berat. Kiranya, setelah perkawinan itu aku tidak lagi mengenal dirimu. Setelah perkawinan itu, aku tidak lagi mengenal dirimu!!! Senyummu yang selama ini menjadi pelipur duka dan kesedihanku, sekarang telah sirna bagaikan matahari yang ditutupi oleh kegelapan malam. Tawamu yang selama ini kujadikan buluh perindu, sekarang telah tenggelam seperti batu yang dijatuhkan kedalam kolam yang hening dengan dedaunan yang keguguran. Aku benar-benar tidak mengenalmu lagi wahai anakku, karena engkau telah melupakanku dan telah melupakan hak ku.

Terasa lama hari-hari yang kulewati, hanya untuk ingin melihat rupamu. Detik demi detik kuhitung demi mendengar suaramu. Akan tetapi penantian kurasakan sangat panjang. Aku selalu berdiri di pintu hanya untuk melihat dan menanti kedatanganmu. Setiap kali berderit pintu, aku menyangka bahwa engkaulah orang yang datang itu. Setiap kali telepon berdering, aku merasa bahwa engkau yang akan meneleponku. Setiap suara kendaraan yang lewat, aku merasa bahwa engkaulah yang datang. Akan tetapi semua tidak ada, penantianku sia-sia dan harapanku hancur berkeping!!! Yang ada hanya keputus asaan, yang tersisa hanya kesedihan dari semua keletihan yang selama ini kurasakan. Sambil menangisi diri dan nasib yang memang telah ditakdirkan olehNya.

Anakku, anakku,

Ibumu tidaklah meminta banyak. Ia tidaklah menagih kepadamu yang bukan-bukan. Yang ibu pinta kepadamu, jadikan ibumu sebagai sahabat dalam kehidupanmu. Jadikanlah ibumu yang malang ini sebagai pembantu di rumahmu. Agar bisa juga aku bisa menatap wajahmu. Agar ibu teringat pula dengan hari-hari bahagia masa kecilmu. Dan ibu memohon kepadamu Nak! Janganlah engkau pasang jerat permusuhan denganku. Janganlah engkau pasang jerat permusuhan dengan ibumu. Jangan engkau buang wajahmu ketika ibu hendak memandang wajahmu. Yang ibu tagih kepadamu, jadikan rumah ibumu salah satu tempat persinggahanmu!!! Agar engkau dapat sekali-kali singgah kesana, sekalipun hanya satu detik. Jangan jadikan ia sebagai tempat sampah yang tidak pernah engkau kunjungi!!! Atau sekiranya terpaksa engkau datang sambil engkau tutup hidungmu, dan engkaupun berlalu pergi!!!.

Anakku. Telah bungkuk pula punggungku dan bergemetar tanganku. Karena badanku telah dimakan oleh usia, dan telah digerogoti oleh penyakit. Berdirinya seharusnya telah dipapah, dudukpun seharusnya dibopong. Akan tetapi yang tidak pernah sirna anakku adalah cintaku kepadamu. Masih seperti dulu. Masih seperti lautan yang tidak pernah kering. Masih seperti angin yang tidak pernah berhenti!!

Sekiranya engkau dimuliakan satu hari saja oleh seseorang, niscaya engkau akan balas kebaikan dengan kebaikan. Sedangkan ibumu mana balas budimu?? Mana balasan baikmu?? Bukankah air susu seharusnya dibalas dengan air serupa, bukan sebaliknya air susu dibalas dengan air tuba. Bukankah Allah huta’ala telah berfirman.

“Hal Jazaaul ikhsaani illal ikhsaan”. “Bukankah Balasan kebaikan kecuali dengan kebaikan yang serupa”.

Sampai begitukah keras hatimu, dan sudah begitu jauhkah dirimu. Setelah berlalunya hari dan berselangnya waktu.

Wahai anakku,

Setiap kali aku mendengar bahwa engkau bahagia dengan hidupmu, setiap itu pula bertambah kebahagianku. Bagaimana tidak ?!?! Karena engkau adalah buah dari kedua tanganku. Engkau adalah hasil dari keletihanku. Engkaulah laba dari semua usahaku!! Dosa apakah yang telah aku perbuat, sehingga engkau jadikan diriku musuh bebuyutanmu?? Apakah aku pernah salah pada suatu hari dalam bergaul denganmu?? Atau pernahkah aku berbuat lalai dalam melayanimu?? Tidak dapatkah engkau menjadikanku pembantu yang terhina dari sekian banyak pembantu-pembantumu yang mereka semua telah engkau beri upah?? Tidak dapatkah engkau berikan sedikit perlindungan kepadaku, dibawah naungan kebesaranmu?!?!? Dapatkah engkau sekarang meng-anugerahkan sedikit kasih sayang, demi mengobati derita orang tua yang malang ini??

Dan Allah subhanahu wata’ala mencintai orang -orang yang berbuat baik. Innallaha yuhibbul muhsinin, Innallaha yuhibbul musinin!!!

Wahai anakku,

Aku hanya ingin melihat wajahmu, dan aku tidak menginginkan yang lain.

Wahai anakku,

Hatiku terasa teriris, air mataku mengalir, sedangkan engkau sehat wal’afiat. Orang – orang sering mengatakan bahwa engkau adalah laki-laki yang supel, dermawan dan berbudi.

Anakku,

Apakah hatimu tidak tersentuh terhadap seorang wanita tua yang lemah, binasa dimakan oleh rindu berselimutkan kesedihan dan berpakaian kedukaan ??? Berselimutkan kesedihan, dan berpakaian kedukaan ?? Tidakkah hatimu tersentuh terhadap seorang wanita tua yang lemah, binasa dimakan oleh rindu berselimutkan kesedihan, dan berpakaian kedukaan ?? Kenapa ?? Tahukah engkau itu ?? Karena engkau telah berhasil mengalirkan air matanya. Karena engkau telah membalasnya dengan luka di hatinya!!! Karena engkau telah pandai menikam dirinya dengan belati durhakamu!!! Tepat menghujam jantungnya!! Karena engkau telah berhasil pula memutuskan tali silahturahim.

Wahai anakku,

Ibumu inilah sebenarnya pintu surgamu. Maka titilah jembatan itu menujunya. Lewatilah jalannya dengan senyuman yang manis, pemaafan dan balas budi yang baik. Semoga aku bertemu denganmu disana dengan kasih sayang Allah ta’ala. Sebagaimana di dalam hadist,

“Orang tua adalah pintu surga yang ditengah. Sekiranya engkau mau, sia siakanlah pintu itu, atau jagalah” (HR. Imam Ahmad).

Anakku,

Aku mengenalmu sejak dahulunya. Semenjak engkau telah beranjak dewasa, bahwa engkau sangat tamak dengan pahala. Aku tahu bahwa engkau sangat tamak dengan pahala!! Engkau selalu bercerita tentang keutamaan berjama’ah. Engkau selalu bercerita terhadapku tentang keutamaan shaf pertama didalam shalat berjamaah. Engkau selalu mengemukakan tentang infaq, tentang bersedekah!!! Akan tetapi satu hadist yang engkau lupakan nak!! Satu hadist yang engkau lupakan!!! Satu keutamaan besar yang engkau telah lalaikan!! yaitu nabi shallahu wa’alaihi wa sallam telah bersabda, sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Abdullah bin mas’ud

Aku bertanya kepada Rasulullah, “wahai Rasulullah amal apa yang paling mulia ???” Beliau berkata, “Shalatlah pada waktunya”. Aku berkata, “kemudian apa ya Rasullullah ???” Beliau berkata, “Berbakti kepada kedua orangtua, berbakti, berbakti kepada kedua orangtua”. Aku berkata “kemudian wahai Rasulullah ???” Beliau menjawab, “Jihad di jalan Allah”. Lalu beliau diam, sekiranya aku bertanya lagi niscaya beliau akan menjawabnya.(HR. Muttafaqun ‘Alaih)

Itulah hadist Abdullah bin mas’ud.

Wahai Anakku,

ini Aku!!! Ibumu!!! pahalamu!!! Tanpa harus engkau harus memerdekakan budak atau banyak-banyak berinfak!! Tanpa engkau harus banyak-banyak bersedekah!! Aku pahalamu!! Pernahkah engkau mendengar seorang suami yang telah meninggalkan keluarga dan anak-anaknya dan berangkat jauh dari negerinya ke negeri seberang untuk mencari tambang emas untuk menghidupkan keluarganya?? Pernakah engkau mendengar cerita itu??

Dia salami satu persatu. Dia ciumi istrinya, dia sayangi anaknya. Dia mengatakan “Ayahmu, Ayah kalian wahai anak-anakku akan berangkat ke negeri yang ayah sendiri tidak tahu. Ayah akan mencari emas!! Ayah akan cari emas!! Rumah kita yang reot ini jagalah!! Ibu kalian yang tua renta ini jagalah!!”

Berangkatlah suami tersebut. Suami yang berharap untuk pergi jauh untuk mendapatkan emas, untuk membesarkan anak-anaknya. Untuk membangun Istana dari rumah reotnya. Akan tetapi apa yang terjadi?? Setelah 30 tahun dari perantauan, yang ia bawa hanya tangan hampa dan kegagalan. Dia gagal dalam usahanya. Dia gagal dalam usahanya!! Pulanglah ia kembali ke kampungnya. Sampailah ia ke tempat dusun yang selama ia tinggal. Apalagi yang terjadi di tempat itu ??? Setibanya di tempat di lokasi rumahnya, kiranya matanya terbelalak. Ia melihat, tidak lagi gubug reot yang ditempati oleh anak-anak dan keluarganya. Akan tetapi dia telah melihat sebuah perusahaan besar, tambang emas yang besar!! Jadi dia mencari emas jauh ke negeri orang, kiranya orang mencari emas dekat di tempat yang ia tinggal. Itulah perumpaanmu dengan kebaikan, anakku!!

Engkau berletih mencari pahala!! Engkau telah beramal banyak!! Tapi Engkau telah lupa bahwa di dekatmu ada pahala yang Maha Besar!! Disampingmu ada orang yang dapat menghalangi atau mempercepat amalmu!! Disampingmu, ibumu adalah orang yang dapat menghalangimu untuk masuk surga atau mempercepat amalmu. Bukankah ridha-ku adalah keridho-an Alloh??? Bukankah murkaanku adalah kemurkaan Alloh wahai anakku ??

Anakku,

Aku takut karena engkau, engkaulah yang dimaksudkan oleh Nabi Muhammad Shallahu wa ‘alaihi salam. ”Celaka seseorang!! celaka seorang anak!! celaka seorang anak!!” Siapa ya Rasululloh ??? Siapa mereka orang yang celaka tersebut ??? yang sengsara tersebut ??? yang merugi tersebut ??? siapa mereka ??? “Seseorang yang mendapatkan kedua orang tuanya, satu atau keduanya. Akan tetapi tidak membuat dia masuk surga.”

Anakku, anakku,

Aku tidak mengangkat keluhan ini kelangit, aku tidak akan adukan duka ini kepada Allah. Karena sekiranya keluhan ini jika seandainya telah membumbung, menembus awan dan melewati pintu-pintu langit!! Maka akan menimpamu kebinasaan dan kesengsaraan yang tidak ada obatnya dan tidak ada tabib yang dapat menyembuhkannya. Aku tidak akan melakukannya wahai anakku, Tidak!! Aku tidak akan melakukannya wahai anakku, Tidak!!

Bagaimana aku akan melakukannya sedangkan engkau adalah jantung hatiku!! Bagaimana ibu ini kuat mengadahkan tangannya ke langit, sedangkan engkau adalah pelipur lara hatiku!! Bagaimana ibu tega melihatmu, merana terkena doa mustajab. Padahal engkau bagiku adalah kebahagian hidupku. Engkau bagiku adalah kebahagian hidupku!!

Bangunlah nak!! Bangunlah!! Bangkitlah Nak!! Uban sudah mulai merambat di kepalamu!! Akan berlalu masa sehingga engkau akan menjadi tua pula. Engkau akan menjadi tua!!

“al-jaza’ min jinsil amal” “Engkau akan memetik sesuai dengan apa yang engkau tanam”.

Aku tidak ingin engkau menulis surat ini. Aku tidak ingin engkau menulis surat yang sama dengan air matamu kepada anak – anakmu!! Sebagaimana aku telah menulisnya kepadamu.

Wahai Anakku,

Bertakwalah kepada Allah, Bertakwalah!! Takutlah Engkau kepada Allah. Berbaktilah kepada ibumu. Peganglah kakinya, sesungguhnya surga di kakinya. Basulah air matanya, balurlah kesedihannya, kencangkan tulang ringkihnya dan kokohkan badannya yang telah lapuk.

Anakku,

Setelah engkau membaca surat ini terserah padamu, apakah engkau sadar dan engkau akan kembali??? Atau engkau akan merobeknya??? Shallahu wa alla nabiyyina muhammadin, wa alla ‘alaihi wa shohbihi wa sallam…

Dari ibumu yang merana…

(webee88.wp.com)

One thought on “Surat Sorang Ibu Kepada Anaknya

  1. Jujur, pertama baca tulisan ini badan terasa merinding.. hampir air mata ini jatuh.. tulisan ini sengaja diposting dengan harapan semoga kita dapat mengambil ibrah..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s