Abu Jibril: “Anak Saya Disiksa Di Depan Gories Mere”

Beriku ini wawancara Suara Islam dengan Wakil Amir Majelis Mujahidin Ustadz Abu Jibril

Kalau dulu di zaman Orde Baru muncul nama Jenderal (TNI) Leonardus Benny Moerdani sebagai tokoh pembantai para aktivis Islam, sekarang kembali muncul nama Komjen (Pol) Gories Mere sebagai tokoh pembunuh aktivis Islam yang difitnah sebagai teroris.

Kedua Jenderal tentara dan polisi itu memiliki banyak kesamaan. Keduanya sama-sama penganut Kristen Katolik fanatik fundamentalis, berlatar belakang intelijen, membenci Islam, bernafsu menghabisi para aktivis Islam, ahli rekayasa terorisme. Kalau di zaman Orde Baru sengaja dibuat Komando Jihad, Teror Warman, Gerombolan Woyla dan lain-lain; sekarang dibuat istilah teroris.

Semuanya itu dimaksudkan untuk menciptakan stigma negatif terhadap Islam dan umat Islam Indonesia. Padahal semua itu sengaja diciptaan rezim penguasa untuk terus menerus mendiskreditkan umat Islam sehingga menjadi lemah dan akhirnya mudah dikendalikan. Sebaliknya gerombolan Kristen dan Katolik fanatik fundamentalis terus berkembang pesat dan akhirnya berkuasa di Indonesia. Kalau dulu ada Benny Moerdani, sekarang muncul Gories Mere.

Berikut ini wawancara Abdul Halim dan fotografer Fuad al Faroeq dari Tabloid Suara Islam dengan Wakil Amir Majelis Mujahidin  Ustadz Abu Jibril, seputar sepak terjang Gories Mere selama ini dalam mendiskreditkan Islam dan umat Islam Indonesia.

Komjen (Pol) Gories Mere ternyata masih memimpin operasi Densus 88, seperti terungkap ketika penangkapan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir dan insiden Bandara Polonia Medan dengan TNI-AU. Bagaimana komentar anda?

Saya kembali ke sejarah.  Dulu ketika zaman Orba, para pemuda yang aktif dalam gerakan penegakan syariat Islam sama mendirikan Himpunan Pemuda Masjid di Jogjakarta yang saya pimpin sendiri, kemudian menjadi Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid se Indonesia (BKPRMI), yang merupakan  gabungan para pemuda dan remaja masjid yang memiliki wawasan bagaimana penegakan syariat Islam di Indonesia.

Pada mulanya adalah gerakan Salibis internasional, yang dimulai dari pengumuman Perang Salib modern tahun 2001 lalu oleh Presiden AS George W Bush pasca insiden 11/9 yang disebut Global War on Terrorism (GWoT). Sebenarnya pada waktu itu Menlu Australia sudah mencirikan siapa yang bisa disebut sebagi teroris. Adapun cirinya adalah ulama yang selalu bicara syariat Islam dan khilafah yang ditegakkan dengan dakwah dan jihad serta menolak demokrasi. Mereka selalu berpakaian baju koko atau jubah, memakai serban, jenggot, istrinya berjubah besar dan cadar. Kalau diteliti ini semua mengarah kepada umat Islam. Inilah yang mereka sebut sebagai teroris.

Padahal menurut Wapres Hamzah Haz pada waktu itu, di Indonesia tidak ada teroris. Namun setelah SBY jadi Presiden, stigma teroris yang dilekatkan kepada umat Islam menjadi sangat populer. SBY banyak sekali terlibat dalam pengenaan stigma negatif kepada umat Islam ini. Bahkan selama 10 tahun  sejak SBY menjabat Menkopolkam hingga Presiden, istilah teroris di Indonesia sangat terkenal. Mereka yang ditangkapi atas perintahnya selama ini mencapai 530 orang.  Sedangkan yang dibunuh baik secara eksekusi Pengadilan atau ditembak langsung di jalan-jalan kurang lebih 40 orang. Sedangkan tokoh yang paling berperanan dalam memburu mereka yang dituduh sebagai teroris adalah Gories Mere. Meski tugasnya sebagai Kepada Badan Narkotika Nasional (BNN), tetapi masih merasa perlu untuk memburu teroris.

Memang selama ini SBY dikenal sebagai kaki tangan yang paling dicintai AS di Indonesia. Dia sengaja mengangkat orang-orang yang bisa membantu tugasnya seperti Gories Mere. Karena AS mayoritas Kristen Salibis, tentu ada suatu perjanjiannya supaya perkembangan Kristen di Indonesia berjalan pesat. Maka apa saja gerakan Kristen selalu berjalan mulus. Meski minoritas, mereka berani membantai umat Islam di Ambon dan Poso, termasuk pembantaian 500 santri Ponpes Walisongo di Poso (2001). Bagaimana kalau mereka mayoritas, tidak dapat kita bayangkan kekejamannya. Selama ini mereka tidak pernah mendapat tekanan dari pemerintah sebagaimana yang  selalu dialami umat Islam. Karena yang berkuasa adalah SBY dan algojonya adalah Gories Mere. Selama ini orang yang paling sibuk mengurusi teroris adalah Gories Mere.  Dia ada dimana saja, seperti ketika terjadi penangkapan, pembantaian, penembakan, termasuk ketika menangkap anak saya Muhammad Jibril. Ternyata Gories Mere ada ditempat ketika Muhammad Jibril disiksa anak buahnya.

Mengapa selama ini nama Gories Mere tidak pernah muncul dalam setiap operasi anti teroris?

Itulah yang mengherankan, mengapa tidak pernah dimuculkan nama Gories Mere, ini yang perlu dipertanyakan. Ketika terjadi pembantaian dimana-mana, kok namanya selamat saja. Akhir-akhir ini baru muncul dan itupun secara kebetulan karena adanya peristiwa insiden dengan TNI AU di Bandara Polonia Medan. Sepandai-pandainya anjing meloncat, pasti akan jatuh juga. Barangkali inilah waktunya kejatuhan Gories Mere.

Adanya rumor, sejak penangkapan Ustad Abu Bakar Ba’asyir, peristiwa Medan, pengerebegan, penangkapan, pembantaian yang dikaitkan dengan teroris, Gories Mere pasti hadir disitu. Jadi semua kegoncangan akibat isu terorisme di Indonesia, dialah orang pertamanya. Gories Mere diduga mendapatkan banyak dana dalam memimpin operasi anti teroris tersebut.  Jadi Gories Mere adalah biang keroknya penyiksaan, penangkapan, pengerebegan dan pembantaiana tertuduh teroris di Indoensia. Terorisme  merupakan undang-undang yang dilegalkan penguasa thoghut untuk menghentikan dan mematikan gerakan jihad bagi penegakan syariat Islam dan khilafah. Terorisme merupakan undang-undang yang dilegalkan untuk menangkap, memenjarakan, membunuh para ulama mujahid dan para mujahidinnya.

Kabarnya anda bertemu dengan tiga Jenderal di Mabes Polri pasca penangkapan Muhammad Jibril?

Pada waktu anak saja Muhammad Jibril ditangkap Densus, kami dari MMI pada 27 Agustus 2009  menemui tiga Jenderal di Mabes Polri, yakni Komjen Susno Duadji (Kabareskrim), Brigjen Saud Nasution (Kadensus) dan Irjen Saleh Saaf. Waktu itu MMI menanyakan penangkapan Jibril pada 25 Agustus 2009. Saya minta bertemu Jibril, tetapi tidak diizinkan. Lalu saya menuntut supaya isu terorisme harus selesai di Indonesia. Maka MMI memberikan solusi supaya pemerintah melalui Polri, DPR, MPR dan para ulama mujahidin untuk menjelaskan bagaimana jihad versus terorisme, bagaimana mujahid versus terorisme. Dengan adanya definisi atau batasan ini, maka Polri melalui Densus tidak akan sewenang-wenang melakukan pembantaian dan pembunuhan terduga teroris. Namun hingga sekarang, ternyata belum ada respon dari Mabes Polri.

Waktu itu saya minta ketemu Jibril, tetapi dijawab baru bisa setelah tujuh hari. Saya minta Jibril jangan disiksa, ternyata ketiga Jenderal polisi itu menjawab dengan sumpah: “Demi Allah, anak ustadz tidak akan disiksa”. Lalu saya katakan: “Kalau sampai terjadi penyiksaan, saya doakan ketiga bapak ini akan kualat. Karena bapak sudah bersumpah tidak akan menyiksa anak saya”.

Setelah itu saya terus aktif menelpon Saud Nasution. Pada hari ketujuh, delegasi MMI kembali ke Mabes Polri, ternyata Muhammad Jibril ada di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok.  Subhanallah, dengan izin Allah kami dapat bertemu Jibril  dan ternyata seluruh bagian tubuhnya bengkak semuanya. Ternyata selama tujuh hari dia mendapat penyiksaan biadab. Jibril tidak tahu ketika disiksa berada dimana, tetapi sepertinya tempatnya luas dan indah, penyiksaannya berada di ruang bawah tanah. Disitulah Jibril ditelanjangi dan disuruh melakukan sodomi bahkan di sodomi oleh penyiksanya. Ternyata yang mengejutkan, Gories Mere ikut menyaksikan penyiksaan Jibril.  Berarti yang memerintahkan penyiksaan adalah Gories Mere dan dilakukan anak buahnya. Tindakan biadab itu dilakukan  untuk mengambil data dan keterangan dari Jibril.

Setelah saya lihat Jibril babak belur karena disiksa, ketika ketemu Saud Nasution saya mengatakan: “Pembohong kamu ! kalau seorang jenderal seperti kamu sudah berbohong, gimana anak buah kamu”. Padahal waktu itu AKBP Zamri yang pernah mengobok-obok rumah saya setelah Jibril ditangkap Densus, ada disamping bosnya tersebut. Kemudian saya mengancam akan menceriterakannya di televisi. Kemudian Saud Nasution memohon jangan diceritakan di televisi.

Sudah berapa banyak yang disiksa, tetapi mereka tidak boleh berbicara. Hanya anak saya Jibril yang berani bicara dan dimuat di media massa. Kalau mereka sampai bicara, maka sangsinya akan dihabisi di dalam penjara. Mereka semua tidak ada yang tidak disiksa, dimana ada yang dicopot kukunya, tubuhnya disetrum listrik dan sebagainya. Anehnya, tidak ada satupun koran atau televisi yang memberitakannya. Terakhir kita lihat Abdullah Sonata dimana dua giginya sampai hancur  dan sekarang sudah diganti dengan gigi yang baru. Jadi para tertuduh teroris itu tidak ada yang selamat dari penyiksaan. Memang itulah cara mereka untuk mengorek data dan keterangan, persis seperti perilaku tentara Zionis Israel terhadap tawanan Palestina. Sudah jelas mereka belajar dari tentara Yahudi itu bagaimana cara menyiksa para tawanan. Selama ini Densus selalu menembak tersangka teroris dengan alasan mereka membawa senjata. Demikian pula pasukan Zionis Israel selalu menembak terlebih dahulu seperti dalam kasus pembantaian diatas kapal Mavi Marmara. Jadi sesungguhnya tentara Zionis Israel merupakan guru besarnya Densus 88.

Insiden Bandara Polonia Medan, ternyata mampu membuka kedok Gories Mere yang selama ini disembunyikan?

Ya, jadi sampai terakhir ini baru muncul nama Gories Mere setelah insiden Bandara Polonia Medan dengan TNI AU. Jika tidak ada  insiden itu, niscaya nama Gories Mere tetap akan tersembunyi. Memang dalam memimpin operasi, Gories Mere dikenal tidak pandang bulu termasuk terhadap orang yang lagi sholat, seperti yang dialami Ustadz Khairul Ghozali di Sumut. Dimana rumahnya ditembaki secara membabi buta dan Ghazali diseret serta diinjak-injak meski sedang menjalankan sholat. Ini semua terkait dengan operasi Densus yang dipimpin Gories Mere. Semua tawanan  yang ditangkap pasti disiksa termasuk Ghozali.

Adapun rumor yang kita dengar, Gories Mere yang memimpin langsung operasi penangkapan Ustadz Abu, memang berusaha mencari nama ke SBY agar menjadi Kapolri. Sehingga tidak pernah putus-putusnya rekayasa penangkapan terduga teroris di Indonesia. Semua sudah ditentukan waktu dan targetnya untuk ditangkap dan disiksa oleh Densus.

Mengapa setiap menjelang kunjungan pejabat AS atau Australia ke Indonesia, selalu muncul kasus terorisme?

Ketika para bos mereka dari luar negeri berkunjung ke Indonesia, memang selalu disuguhkan tangkapan berupa para aktivis Islam yang dituduh teroris.
Nyawa para mujahid itu disetorkan kepada mereka seperti tumbal.Waktu Menlu AS Condolizza Rice (2008) dan Hillary Clinton (2009) berkunjung ke Jakarta ada penembakan teroris. Waktu Presiden Obama mau ke Jakarta, juga ada penembakan terduga teroris. Sepertinya berbagai penembakan itu sudah menjadi target utama dan dipilih waktunya.

Setelah Dulmatin dibunuh, Ustadz Abu ditangkap. Setelah itu muncul peristiwa Medan dan nama Abu Tholut dimunculkan. Setelah ini siapa lagi yang akan diangkat namanya. Saya kira ini merupakan suatu proyek agar dana besar dari luar negeri terutama AS dan Australia segera turun. Jadi umat Islam selalu dijadikan konsumsi dan komoditi mahal. Terorisme merupakan komoditi mahal untuk dijual ke AS dan Australia, sehingga Gories Mere menjadi tokohnya. Jadi sesungguhnya biang kerok isu terorisme di Indonesia adalah Gories Mere sedangkan Presidennya SBY. Sebab sejak Menkopolkam hingga Presiden sekarang, SBY lah yang berkuasa. SBY memang memiliki keistimewaan, selalu mencari simpati rakyat dan tebar pesona dengan isu terorisme. Seperti gambar latihan penembakan teroris tahun 2004 lalu dimana SBY dijadikan sasaran tembak, ternyata itu juga diperlihatkannya kepada rakyat tahun 2009 lalu agar mendapat simpati. Adapun yang terakhir adalah SBY meminta simpati rakyat pada kunjungannya ke Bandung, setelah itu Ustadz Abu ditangkap di Banjar Patroman, Jawa Barat.

Kapolri BHD pernah menyatakan teroris ingin mendirikan negara Islam. Bagaimana tanggapan anda?

Memang ada pernyataan Kapolri gerakan teroris ingin mendirikan negara Islam. Menurut Kapolri, pada 17 Agustus lalu para teroris berencana mengacau suasana peringatan proklamasi dengan menembak Presiden dan Wapres serta pejabat tinggi negera lainnya. Setelah itu besoknya mereka akan mendeklarasikan berdirinya negara Islam di Indonesia. Wah kok hebat sekali para teroris itu ! Saya kira itu hanya ancaman versi Kapolri. Dengan isu itu mereka berusaha memunculkan nama seperti Syahrir dan Syaifuddin Zuhri untuk kemudian dibunuh.

Sekarang setelah isu Medan, dibuat lagi isu teroris yang merampok. Padahal para perampoknya terlihat orang-orang yang berbadan tegap dan cara memegang senjatanya kelihatan sudah profesional. Kemudian mereka menyerang Mapolsek Hamparan Perak. Di televisi dikatakan pelurunya sama antara perampok bank dengan penyerang Mapolsek, sehingga dikejarlah mereka. Inilah gerakan terakhir kali dari Gories Mere. Inilah program Gories Mere menggantikan Benny Moerdani.

Para teroris dituduh mencari dana dengan cara merampok bank untuk fai. Bagaimana komendar anda?

Itu beritanya tidak jelas. Benarkah mereka mengatakan fai, siapa yang mengatakannya ? Karena sudah berpengalaman sebelumnya, maka dimunculkan fai, seperti yang dikatakan si penghianat Nasir Abbas. Jadi fai itu dihubung-hubungkan dengan perampokan. Kebetulan  ditangkap mantan anggota MMI Sumut, Marwan yang diminta bicara di Metro TV. Ketika ditanya apakah kenal dengan Ustadz Abu, dia mengatakan pernah sebagai pengawal Ustadz Abu kalau berkunjung ke Sumatera Utara. Padahal dia sudah lama dipecat dari MMI. Saya menduga ini mau dikait-kaitkan dengan Ustadz Abu di pengadilan nanti. Marwan hanya datang ke MMI kalau ada Ustadz dari Jawa, sehingga dianggap tidak disiplin dan akhirnya  dipecat.

Bagaimana harapan anda jika nantinya Komjen (Pol) Timur Pradopo dilantik menjadi Kapolri menggantikan BHD?

Memang selama ini dia banyak berkomunikasi dengan ormas Islam, tiba-tiba dia menjadi calon Kapolri. Terus terang saya pesimis, sebab Dai Bahtiar diangkat Kapolri ternyata melindungi SBY, demikian pula dengan BHD yang juga melindungi SBY. Saya khawatir karena Timur Pradopo juga ditunjuk SBY, jangan-jangan nanti dia juga akan melindungi SBY. Inilah kekhawatiran saya. Tetapi saya berharap, mudah-mudahan dia nantinya berpihak kepada umat Islam, jangan seperti Gories Mere yang membantai umat Islam.

Saya berharap Kapolri Timur Pradopo nanti mampu membubarkan Densus 88. Sedangkan kami sekarang sedang melakukan judicial review ke MK agar Densus dibubarkan. Meski tingkat keberhasilannya kecil, tetapi kami sudah berusaha untuk membubarkan Densus. Tetapi paling tidak kebrutalan Densus bisa dihalangi, sehingga tidak dapat melakukan penembakan dijalan-jalan dengan semena-mena atas nama UU Anti Terorisme. Kami berharap Gories Mere segera dipensiunkan jika nanti Densus dibubarkan.

Setiap orang berkuasa seperti Kapolri, harapan kita dia menjadi baik dengan umat Islam dan membubarkan Densus 88, ini yang paling penting. Adapun yang lebih penting lagi adalah dia menjadi orang sholeh. Wallahu A’lam.

(suara-islam.com)

—————————————————

Ralat dari redaksi Arrahmah.com pada tulisan diatas:
Tertulis:“Disitulah Jibril ditelanjangi dan disuruh melakukan sodomi bahkan disodomi oleh penyiksanya.”
Seharusnya:“Disitulah Jibril ditelanjangi untuk diperiksa karena dituduh sodomi.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s