Da’wah Antara Idealita dan Realita

Seperti laut dan pantai, Islam dan politik tidak bisa dipisahkan. Apalagi manusia dan politik, karena bayi saja berpolitik. Perhatikan ada bayi yang tiba-tiba saja menangis namun langsung terdiam ketika diberi asi (air susu ibu). Bukankah itu siasat si bayi untuk memenuhi keinginannya. Seorang kawan nyeletuk itu, “Semacam tangisan politik.” Jadi jangan salahkan bila orang kafir ingin menguasai umat Islam.

Islam adalah agama fitrah, maka berpolitik menjadi suatu bagian dari amal islami.  Namun seringkali antara idealita berbeda dengan realita sangat jauh jaraknya. Pasca runtuhnya Khilafah Turki Utsmani, umat Islam menjadi bulan-bulanan dominasi asing. Saking kuatnya kuku cengkeraman penjajah, hingga timbul semacam ungkapan, “Makin shalih seseorang makin jauh dari raja.” Padahal aslinya, Rasulullah saw adalah Pemimpin. Harusnya, umat Islam menjadi rahmat bagi alam semesta.

Ketika rombongan pasukan Islam pertama, memasuki Eropa. Maka penduduk di benua itu  terbengong-bengong melihat kostum pasukan Islam. Peradaban yang tertinggal membuat mereka merasa heran dengan kemajuan peradaban yang dicapai pasukan Islam. Sesuai kenyataan, ketika penduduk di Amerika baru belajar mandi (mandi koboy) umat Islam sudah membuat konstitusi, Piagam Madinah.  Keadaan sebaliknya persis dengan ketika Belanda masuk ke Indonesia. Rakyat Indonesia yang mayoritas Muslim terpesona dengan penjajah Belanda. Hingga kini masih terasa mental inlander. Orang bangga dengan tampang dan gaya blasteran Indo.

Seorang kawan menceritakan, ketika terjadi demo anti Israel atas pembantaian umat Islam Palestina beberapa demonstran yang diangkat sebagai juru bicara masuk ke Kedubes Amerika. Tapi di sana —ketika melihat betapa modern dan canggihnya detektor di kedubes Amerika—mereka bukannya mengutarakan protes, justru bersikap seperti tuan dan jongosnya. Rupanya mental terjajah masih menyilaukan pandangan.

Wajah dunia Islam dalam politik mengutip Olivier Roy (The Failure of Political Islam, 96) yang menyoroti sejumlah gerakan keagamaan yang berada di dunia Islam, seperti al-Ikhwan al-Muslimun (Mesir), FIS (Aljazair), Jamaat-i Islam dan Hizb-i Islami (Afganistan), dan Revolusi Syi’ah (Iran). Menurutnya, gerakan tersebut dinyatakan gagal karena beberapa faktor, tidak adanya konsep yang jelas perihal penyelesaian masalah kemanusiaan, konsep masyarakat yang semu dan suram.

Selain dua hal di atas, Olivier Roy melihat adanya masifikasi paham kebencian terhadap kelompok lain, hilangnya ruang dan otentisitas keagamaan. Dalam penilaiannya, (umat) Islam gagal menawarkan model masyarakat yang berbeda maupun masa depan yang lebih cerah.

Jadi, masih menurut Roy, kemenangan politik Islam di negeri Muslim hanya membawa berbagai perubahan superfisial di bidang hukum dan adat istiadat. “Islamisme, belakangan berubah menjadi tipe neo-fundamentalisme yang hanya peduli kepada gerakan menegakkan syariat tanpa menciptakan bentuk-bentuk politik yang baru,” simpulnya.

Perekonomian Islam yang mereka gagas sekadar retorika belaka, menyelubungi bentuk sosialisme dunia ketiga maupun liberalisme ekonomi yang lebih cocok untuk spekulasi ketimbang produksi. Akibatnya, realitas sosioekonomis yang menopang gelombang Islamisme masih berjalan di tempat dan tidak kunjung berubah: kemiskinan, alienasi, krisis nilai dan identitas, kemerosotan sistem pendidikan.

Setuju dan tidak setuju boleh saja dengan pendapat di atas. Namun kenyataan berbicara, lembaga Islam dan manusianya masih jauh dari idealita. Anda yang bekerja di lembaga-lembaga Islam bisa merasakan. Lembaga Islam (ormas maupun partai) masih bekerja dengan gaya yayasan, yang mengharapkan santunan alias jauh dari profesionalisme. Kader-kadernya masuk ke lembaga tersebut dengan mindset, menerima bukan memberi. “Apa yang akan aku dapat dengan menjadi aktivis?”

Padahal era reformasi memungkinkan umat Islam untuk mengisi ruang-ruang pertarungan. Saat ini semua kekuatan (baik Islam, nasionalis maupun kiri) memiliki kekuatan dan kesempatan yang sama. Tak ada lagi dominasi pihak ketiga (seperti tentara di masa Orde Baru). Sayang bila kesempatan ini berlalu begitu saja.

Yang harus dikritisi dari pendapat Roy di atas, adalah bahwa aktivis Islam terus bergerak. Sesuai dengan istilah harakah yang  berarti gerakan. Tulisan Roy, dipublikasikan tahun 90-an, artinya bahan untuk penelitian yang digunakan jelas dari tahun-tahun sebelumnya. Sedangkan umat Islam paruh terakhir era 90-an dan memasuki era 2000-an melakukan lompatan. Sudah berubah secara drastis.

Tulisan ini bukan pembelaan atas sikap umat Islam yang tak mau bergerak (atau bergerak tanpa konsep). Tapi, tulisan ini mengingatkan bahwa umat Islam terus berproses. Terus berusaha untuk mendekatkan antara idealita dengan realita. Untuk menyongsong janji Allah SWT, bahwa bumi ini akan diwariskan pada orang-orang beriman. Tak soal Roy dan Roy-Roy lainnya  mengatakan bahwa waktu itu kalah. Kalah dan menang hanya masalah giliran. Karena Allah tidak akan bertanya, kenapa kalah? Yang akan ditanya adalah apa peran kita: sebagai pengkhianat atau tetap istiqamah sebagai pejuang.[sabili]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s