Terorisme: Saya Muslim, Saya Korbannya

Peledakan WTC

Peledakan WTC

Dr. Bitsniyah Sya’ban
(Asy-Syarq Qatar)

Mereka yang mensinonimkan kata terorisme dengan kata Islam kini berusaha melakukan cuci otak kita dengan ungkapan “saya muslim, saya anti terorisme”. Kini ungkapan ini banyak berseliweran di layar kaca negeri-negeri Arab selama bulan Ramadhan. Ungkapan ini bukan produk kaum Muslimin bukan pula produk musuh para teroris hakiki. Tujuan pendanaan iklan yang demikian intens ini selama bulan Ramadhan ini bukan ingin membebaskan Islam dari tudingan Israel dan para sekutunya dari kelangan kelompok neo konservatif pasca 11 September.

Perhatikan! Sangat jelas dari kesan inti dari ungkapan yang menegaskan “meski saya muslim, saya anti terorisme”. Ungkapan ini berarti, musuh-musuh kita mengarahkan kepada 1 milyar muslim di dunia tudingan terorisme dan membebaskan kaum Kristen, Yahudi, Budha, Hindu dan lainnya dari tudingan “terorisme”. Berapa banyak kejahatan Israel terhadap bangsa Arab Muslim dan Kristen di dalam dan luar Palestina setiap hari, membunuh, membantai, menggusur rumah, menghancurkan lahan, memblokade, membakar masjid, dan masih panjang daftarnya. Namun, apakah pernah sehari saja kita melihat ungkapan “Saya yahudi, saya anti terorisme”???

Padahal berapa banyak pasukan Amerika dan pasukan koalisinya dari barat yang menginvasi Irak dan Afganistan menggelar kejahatan perang, terror, pembantaian massal, peledakan, siksaan, pembantian yang korbannya lebih dari 1 juta warga Irak. Belum lagi ratusan ribu warga Afganistan dan Pakistan. Korban selalu dari kalangan muslim sipil, anak-anak, wanita. Lantas pernahkah sehari saja ada ungkapan “Saya Kristen, saya anti terorisme”?? Kenapa? Sebab serangan rasis terfokus sejak 11 September 2001 hingga hari ini hanya terarah kepada Islam dan kaum muslimin. Jika analogi dengan hasil peristiwa benar, maka bisa disimpulkan bahwa peristiwa 11 September bertujuan mencari pembenar untuk mendeklarasikan perang terhadap umat Islam dan memberikan legitimasi bagi kejahatan Israel yang digelar di Palestina berupa yahudisasi, pengusiran, pembunuhan, pemenjaraan, penyiksaan.

Namun pertanyaannya, bisakah 1,3 milyar muslim menghadang serangan rasis melalui lembaga studi terbuka dengan cara mengajak dialog dengan barat dengan bahasa mereka untuk menjelaskan makna-makna agung Islam? Padahal bila makna-makna dan nilai itu diadopsi dengan benar akan menjadi penyelamat hakiki manusia dari krisis dan kemaksiatan. Apakah ketakutan terhadap Islam yang mendorong musuhnya untuk mengarang cerita bohong atau film atau kartun yang menistakan citra Islam yang toleran? Mana dunia dari sosok pengulu para Nabi yang bisa memaafkan musuh yang sudah menyerah?  Mari kita bandingkan dengan perlakuan Amerika dan Israel terhadap tawanan perang dan lihat pula di Guantanamo, Abu Ghurb, penjara Israel? sebuah perbedaan moral yang sangat jauh antara spirit dan ruh kemanusiaan dalam Islam dengan brutalisme musuh-musuhnya.

Mana moral yang didengungkan ketika baca cerita pilu penyiksaan brutal dan perlakukan keji terhadap tahanan, anak-anak, wanita di Palestina, Irak, Aganistan, Pakistan di penjara kaum yang mengaku beradab itu? Jika kembali kepada penamaan “terorisme” bukankah pejuang kulit hitam Nilson Mandela dianggap teroris pada oleh penjagal dari system Aparthaid? Bukankah semua kekuatan perlawanan dulu dan kini dianggap sebagai teroris oleh pasukan penjajah Fasis, Nazi, dan kolonialisme sampai kelompok perlawanan mampu mewujudkan kemerdekaan bagi bangsanya?

Lihat laporan yang kita baca di situs Wikilikz soal Afganistan dan Irak dimana justru Amerika Serikatlah yang mengeksport terorisme ke penjuru dunia (Washington Pos, 25 Agustus 2010). Harian ini melansir tiga laporan rahasia dari Pusat Studi Sel Merah di CIA yang menetapkan warga Pakistan David Hedley dan dua lainnya sebagai pelaku terror Mumbay. Hedley mengakui bertanggungjawab dalam serangan Mumbay yang merenggut nyawa 160 orang. Namun ia bergerak bebas di Amerika, Pakistan dan India.

Masalah seperti ini bukan hal baru. Di tahun 1994, seorang dokter yahudi Amerika bernama Barukh Goldstain migrasi dari New York ke Israel dan bergabung dengan kelompok ekstrim dan membunuh 29 warga Palestina yang sedang shalat di masid Ibrahimi di kota Hebron.

Dan perlu diingat, di bulan lalu ada 76 ribu kumpulan dokumen rahasia di Wikilikz dari rekaman Amerika dan laporan di lapangan soal perang di Afganistan. Laporan dan dokumen ini menyulut kritikan karena memuat informasi yang memojokkan dan menuding pasukan Amerika dan agennya di Afganistan melakukan tindakan terorisme. Banyak tuntutan agar dokumen itu ditarik.

Bagaimana lantas layak bagi orang seperti mereka mengotori nama Islam dengan terorisme yang mereka lakukan sendiri. Mereka mendanai kelompok teroris. Kita semua tahu peran intelijen Amerika dalam melatih kelompok teroris yang dikaitkan dengan Islam. Sebab anggota termasuk yang tergiur oleh dana. Seperti yang terjadi pada perang dingin. Bahkan kini mereka menggunakan mafia “perusahaan keamanan” (baca artikel Jason Thomas dengan judul “Agar Afganistan Lebih Berbahaya” di Hiralide Tribun, 25 Agustus 2010 dimana penulis keukeuh mengatakan “Amerika menjaga orang asing dan lembaga-lembaga bantuan lokal” “menjaga dana yang cash yang dikirim melalui mobil berlapis baja.”

Semua pihak tahu segala yang ditulis soal Afganistan tentang kemunafikan, korupsi, pragmatis. Nyawa dan keamanan warga Afganistan di luar itu. Hal yang tidak berbeda terjadi di Irak. Lantas atas dasar apa mereka bicara soal Islam sebagai sumber terorisme? Bagaimana mereka menuding kaum muslimin sebagai terorisme sementara mereka yang produsen terorisme itu sendiri. Pantaskah TV-TV Arab menyiarkan iklan menuding jutaan umat Islam sebagai teroris di bulan mulia ini dimana umat sedang menikmati akhlak islam yang mulia? Pantaskah mereka yang menggunakan cara-cara penyiksaan, peledakan, pembantaian, korupsi, perang sebagai cara resmi penjajahan negeri muslim satu demi satu kemudian menuding kelompok yang membela kehormatan, kebebasan, kedaulatan dengan tudingan teroris? Ataukah mereka ingin mendikte kita umat Islam dengan nilai-nilai dan gagasan serta moral agama kita sendiri, smentara mereka secara rahasia dan terang-terangan nilai-nilai terorisme yang kemudian dicemot oleh orang-orang yang lemah jiwanya yang merasa kurang dibanding barat.

Seharusnya ungkapan yang diiklankan oleh layar TV Arab adalah: “Saya Muslim, saya korban terorisme”. Sementara musuh-musuh kita, aib terorisme, peperangan, yahudisasi, pembangunan pemukiman koloni yahudi, penggusuran rumah, penyiksaan, pembantaian, dan kejahatan-kejahatan lain, akan mengejar mereka sepanjang sejarah. Merekalah produsen terorisme, terlepas dari agama mereka. Dan korban terorisme mereka adalah kita umat Islam. Kita terus berjuang demi kebebasan dan kehormatan, mujahid untuk melepaskan diri dari terorisme, represifme, penjajahan dan kolonialisme mereka!

(MD/IP)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s