Danny Yatom, mantan Direktur Mossad: Israel Tak Peduli Hukum Internasional

Danny Yatom

Danny Yatom

Sepak terjangnya dalam mengacak-acak sejumlah negeri Muslim tak perlu diragukan. Mossad amat lihai melakukan “kejahatan” militer.

Mossad bertanggung jawab terhadap missi intelejen, penyamaran dan kontra teroris. Lembaga ini pula yang bertanggung jawab atas pemindahan warga Yahudi keluar dari Suriah, Iran, dan Ethiopia. Agen-agennya aktif dalam pembentukan sejumlah negara komunis di Barat dan PBB. Operasi utamanya, menyangkut pengawasan terhadap bangsa-bangsa dan organisasi Arab/Muslim di seluruh dunia. Khususnya “menghabisi” orang dan tokoh-tokoh yang dinilai menghambat dan membahayakan Israel atau Yahudi.

Mossad dibentuk Perdana Menteri Israel David ben Gurion, 1 April 1951. Lembaga intelijen ini berkantor pusat di Tel Aviv. Tahun 1980, personilnya diperkirakan sudah berjumlah 1500-2000 orang. Secara tradisional, direkturnya dirahasiakan, namun pada Maret 1996, pemerintah Israel mengumumkan pada publik Mayjen Danny Yatom sebagai direktur menggantikan Shabtai Shavit yang dipecat awal 1996.

Demi menjalankan missinya, Mossad kerap tidak mempedulikan hukum internasional.

Baru-baru ini, Danny Yatom bercerita panjang tentang kegagalannya membunuh Khalid Misy’al, Kepala Biro Politik Hamas. Dialah otak dari rencana pembunuhan biadab itu. Baginya, para pejuang pembebasan tanah Palestina dan Hamas, hanyalah kelompok teror dan hanya akan mempersulit “penjajahan” Israel di wilayah itu.
Danny Yatom berperan penting dan pemegang kunci utama militer, keamanan dan pos politik dalam sejarah Israel. Bagi Israel, ia Direktur Mossad terbaik yang pernah ada. Ia otak dibalik pembantaian rakyat dan tokoh Palestina.

Tahun 2006, Danny Yatom pernah menegaskan, seluruh anggota kabinet Palestina dapat dijadikan target pembunuhan setelah Hamas menunjuk Abu Samhadana sebagai komandan pasukan Palestina yang baru. “Tidak seorang pun yang berhubungan dengan teror bisa memiliki kekebalan dalam bentuk apa pun, bahkan jika ia memegang jabatan kementerian di dalam pemerintahan Hamas,” katanya dengan nada mengancam.
Dalam wawancara dengan Al-Jazeera, Danny Yatom membeberkan kegagalannya membunuh Khalid Misy’al. Berikut petikannya:

Selama menjabat Direktur Mossad Anda pernah mencoba membunuh pemimpin Hamas Khalid Misy’al, tapi gagal. Bila melihat peristiwa lalu, bisakah disebut Anda telah melakukan kekeliruan?
Saya tidak berpikir seperti itu. Perdana menteri Israel Yitzhak Rabin kala itu meminta Raja Hussein menutup markas besar Hamas yang berada di Amman. Sayangnya, Raja Hussein menolak. Ia mengatakan, rakyatnya dapat memonitor Khalid Misy’al. Dan menurutnya, ia lebih baik di Amman dibanding jika berada di tempat lain. Tetapi Mukhabarat (agen keamanan Yordan) tidak melakukan tindakan apa pun.

Terus?
Kita mempunyai semua informasi. Khalid Misy’al adalah dalang dibalik banyak penyerangan yang memakan banyak korban jiwa.

Setelah teror menyerang Yerusalem, Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri (Israel) waktu itu, meminta para pemimpin-pemimpin keamanan memberi usulan bagaimana caranya melawan Hamas. Saran saya bukan Khalid Misy’al dan bukan pula Yordan.

Apa usul Anda saat itu?
Di tempat lain, bukan di kawasan Arab.

Seseorang atau sesuatu?
Sesuatu. Netanyahu memutuskan bahwa saran saya tidak cukup menyulitkan Hamas. Dia meminta saya pergi. Dan ketika opsi datang, dan rencana menjadi kenyataan, akhirnya Khalid Misy’al (harus dilenyapkan).

Kita sangat memahami bahwa itu sangat riskan bila dilakukan di Yordan. Karena itu, kita memutuskan untuk melakukan dengan cara diam-diam. Tetapi ada kegagalan. Agen-agen kita ditangkap oleh polisi Jordan.
Segera setelah itu, saya menemui Raja Hussein dan mengatakan kepadanya bahwa kami mempunyai penangkal racun untuk mencegah Misy’al meninggal.

Kami menawarkan penawar racun, karena saya memahami bahwa jika Misy’al mati setelah orang-orang kami tertangkap, itu hanya akan memperumit situasi.

Yordania menolak karena mereka memikirkan rencana lain. Sementara, Khalid Misy’al sekarat, Yordania menuntut kami untuk memberi mereka lebih banyak informasi penangkal racun. Kami memberikannya dan mereka akhirnya yakin. Mereka memberinya suntikan dan sejak itu ia mulai sembuh.

Akankah Israel berencana membunuh Misy’al lagi?
Sikap Israel, siapapun yang melaksanakan teror, ia tak akan menikmati kekebalan.

Dan Mossad memilih penyelesaian di luar pengadilan atau pembantaian, begitu?
Cara saya akan merujuk pada sikap Israel tadi. Bahwa siapa pun melakukan teror, ia tidak menikmati kekebalan di mana pun.

Tanpa hormat kepada hukum internasional?
Dengan memandang apa yang pernah disampaikan Presiden (Amerika) Bill Clinton bahwa: harus ada nol toleransi untuk teror.

Menurut Anda, apa sebaiknya yang dilakukan Israel sekarang?
Saya menentang terhadap segala bentuk operasi besar-besaran. Karena saya tidak berpikir bahwa itu akan menolong, baik kami atau orang Palestina. Hanya akan menyebabkan perusakan, pertumpahan darah dan penderitaan.

Tetapi sepanjang Hamas menembak dan meluncurkan roket-roketnya ke kota-kota kami, tentu kami akan melawan. Dan cara yang bisa dilakukan adalah operasi militer.

Kami mendukung dialog, baik dengan Mesir maupun dengan Hamas, tapi tidak secara langsung. Saya siap bernegosiasi untuk gencatan senjata. Tetapi gencatan senjata itu hanya berlaku di Gaza, bukan di Tepi Barat.

Mengapa?
Karena mereka tidak mengendalikan Tepi Barat. Jika ada satu usaha untuk menyelesaikan teror di Tepi Barat, saya tidak menghendaki mereka berkata “Israel melanggar persetujuan”, jika kami membentur ke sana.
Hamas menyatakan, “Israel mengumumkan suatu gencatan senjata secara sepihak dua kali, tapi Israel tidak menghormatinya.”

Itu tidak benar. Apa yang terjadi adalah bahwa setelah beberapa hari (genjatan senjata), roket-roket menembaki kami. Itu dilakukan oleh kelompok lain di Palestina.
Suatu gencatan senjata secara penuh, itu berarti segalanya.

Apakah Anda berpikir perlu opsi militer di Gaza?
Tidak. Suatu jajak pendapat terbaru di Ha’aretz menyimpulkan bahwa sebagian terbesar responden menginginkan Israel berdialog dengan Hamas.

Mengapa Israel mengizinkan Hamas untuk mengambil bagian di dalam pemilihan umum di Palestina?
Kita dipaksa oleh Amerika untuk mengizinkan [membiarkan] Hamas ikut ambil bagian dalam Pemilu, dan itu adalah suatu kekeliruan yang fatal.

Tetapi, kami ditekan Presiden George W Bush dan Condoleezza Rice (Sekretaris Negara AS) dan Ariel Sharon [Perdana Menteri Israel] menerimanya. Perhitungan kami dan Amerika, Fatah akan menang. Ternyata hasilnya sangat mengejutkan kami. Hamas yang menang.

Hal lain, ketika saya mengatakan kepada Anda, saya siap untuk bertemu dengan Hamas, itu hanya berlaku untuk dua masalah dan dalam satu cara yang tidak langsung: Pertama adalah gencatan senjata di Gaza dan kedua, adalah pertukaran para tahanan untuk mendapat kembali Gilad Shalit.

(hidayatullah)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s