Setelah Penangkapan Ustadz Abu, Ternyata Kapolri Sakit

Staf Khusus Kapolri, Kastorius Sinaga, membantah semua rumor yang menyebutkan bahwa Kapolri Jenderal (Pol) Bambang Hendarso Danuri dipanggil ke Istana, Cikeas, atau alasan-alasan yang berkembang tempo hari sehingga sertijab 9 Kapolda ditunda. Ternyata, setelah penangkapan terhadap Abu Bakar Ba’asyir, Kapolri jatuh sakit.

“Tidak benar rumor itu. Pukul 17.40, Bapak Kapolri menelepon saya dan mengabarkan dia sedang sakit di rumah dinas,” ucap Kastorius Sinaga, sebagaimana dikutip dari Kompas.com.

“Pak Kasto, saya ini sedang di rumah dinas. Saya sakit,” demikian Kapolri seperti diceritakan Kastorius. Lalu Kastorius bertanya,” Sakit apa, Pak? Saat ini banyak rumor yang tak jelas menyangkut diri Pak Kapolri.”

Kapolri menjawab, “Biasa, saya kecapaian. Saya merasa mual dan pusing sehingga saya tidak bisa menghadiri acara sertijab.”

Kastorius bertanya lagi, “Ada rumor Pak Kapolri dipanggil atasan, Pak Presiden ke Istana. Bagaimana, Pak?”

Bambang Hendarso kemudian membantah hal itu kepada Kastorius. Ia juga membantah penjelasan Kepala Divisi Humas Polri Irjen (Pol) Edward Aritonang. “Saya tidak sempat memberi tahu Kadiv Humas soal kondisi saya,” ungkap Bambang kepada Kastorius. Kapolri mengajak Kastorius bertemu dengannya pada Rabu (18/8/2010).

Staf Khusus Kapolri ini menegaskan, hubungan Kapolri dan Presiden baik-baik saja. “Tolong luruskan hal ini,” kata Kastorius.

Sebelumnya, Kepala Divisi Humas Polri Irjen (Pol) Edward Aritonang membantah berita yang beredar bahwa “hilangnya” Kapolri selama satu hari ini disebabkan kelelahan dan harus beristirahat di rumah.

“Enggak. Enggak. Pak Kapolri baik-baik saja. Beliau sehat,” kata Irjen (Pol) Edward Aritonang.

Polri juga tegas membantah bahwa Kapolri urung melantik lima pejabat baru di lingkungan Mabes Polri, salah satunya Kadiv Humas Polri, karena dia dipanggil Presiden. Adapun pemanggilan terjadi setelah seorang perwira tinggi Polri yang terseret mutasi berdasarkan keputusannya tidak dapat menerima keputusan itu.

“Enggak. Enggak ada itu. Enggak ada beliau dipanggil,” tuturnya.

Tanggapan Pendukung ABB

Dugaan sakit atas Kapolri yang sehari Jumat kemarin (14/08/10) menghilang, sempat tersebar di kalangan kaum pergerakan Islam Solo. Mereka justru berharap Kapolri sakit dan menyadari bahwa sakit itu adalah peringatan kepadanya atas penangkapannya terhadap ustadz Abu Bakar Ba’asyir.

Dalam acara malam keprihatinan yang diprakarsai oleh Jamaah Anshorut Tauhid (JAT) Solo Kamis dan Jumat malam, acara diisi dengan tausiah dan doa yang ditujukan kepada Kapolri dan Densus 88, dilanjutkan dengan tarawih berjamaah dengan pembacaan doa qunut nazilah serta doa melaknat Densus 88.

Seperti yang disampaikan Humas JAT tempo hari, Endro Sudarsono Spd, maksud acara ini adalah dalam rangka pembinaan rutin anggota JAT Solo dan tak lupa mendoakan Kaporlri Jendral Bambang Hendarso Danuri dan Kadensus 88 Tito Karnavian bermuhasabah atau intropeksi atas segala yang dilakukan dengan sadar menangkap dan menahan ulama sepuh KH Abu Bakar Ba’asyir menjelang Ramadhan 1431 H.

Menanggapi informasi sakitnya Kapolri, umat Islam Solo merasakan sedikit kegembiraan karena doa mereka dikabulkan.

Dan ketika ditanya perihal sakitnya Kapolri ini apakah disebabkan doa umat Islam di Indonesia yang menentang penangkapan ustadz Abu Bakar Ba’asyir ataukah faktor kebetulan belaka, Abdul Rochim Ba’asyir, bungsu Abu Bakar Ba’asyir memberikan tanggapan diplomatis.

“Wallahu a’lam. Semua hal yang ghaib adalah kewenangan Allah yang tidak dapat diketahui oleh manusia,” demikian tanggapan awal anak bungsu Abu Bakar Ba’asyir saat dihubungi Muslimdaily via ponsel.

“Namun, kami -umat Islam- meyakini bahwa doa seseorang yang sedang terzalimi adalah ijabah. Jarak antara doa orang yang terzalimi dengan Allah tidak terpisah oleh hijab. Sehingga doanya pasti langsung didengar Allah dan lebih cepat untuk terijabah,” tambahnya.

“Apalagi, doa-doa orang yang terzalimi di negeri ini atas tindakan-tindakan Polri dan aparat pemerintah secara umum tidak hanya kami (pendukung ABB_red) yang merasakannya. Ada korban tabung gas, korban aksi berlebihan Densus 88, korban korupsi para pejabat Polri pemilik rekening gendut, dan lain-lainnya. Jika sebanyak itu jumlah orang yang terzalimi, maka potensi terijabahnya doa-doa itu sangat besar,” ujarnya.

“Kami tidak meyakini adanya faktor kebetulan di dunia ini. Semua terjadi atas kehendak dan qodarullah yang tidak ada faktor kebetulan di dalamnya. Dan kami meyakini bahwa doa memiliki kekuatan!” tegasnya.

Iim, sapaan akrab Abdul Rochim, juga menghimbau umat Islam secara keseluruhan agar meningkatkan kualitas keimanan dan kualitas doa nya selama bulan Romadhon ini karena Romadhon adalah bulan yang sangat mulia untuk berdoa. Ia menghimbau agar umat Islam yang tengah berada dalam ombang-ambing kepentingan penguasa dan kerap dikorbankan berdoa untuk kekuatan dan kemuliaan Islam dan umat Islam. (muslimdaily/Kom).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s