Nabi yang Takjub kepada Kaumnya

DR. Umar Sulaiman Abdullah Al-Asyqar

Pengantar

Inilah kisah seorang nabiyullah yang diberi umat yang banyak jumlahnya. Dari umatnya itu dia membentuk pasukan yang besar, banyak jumlahnya, dan tangguh. Apa yang dicapai oleh umatnya sangatlah menakjubkan, begitu pula kekuatannya. Dia berkata, “Siapa yang bisa melawan dan menghadang mereka?”

Maka Allah membinasakan tujuh puluh ribu dari kaumnya akibat takjub yang ada padanya.

Teks Hadis

Imam Ahmad meriwayatkan dari Suhaib berkata, apabila Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam shalat, beliau membisikkan sesuatu yang tidak aku mengerti dan tidak menjelaskan kepada kami. Beliau bertanya, “Apakah kalian memperhatikanku?” Kami menjawab, “Ya.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya aku teringat salah seorang nabi yang memiliki pasukan  dari kaumnya –dalam riwayat lain, ‘membanggakan umatnya’- dia berkata, ‘Siapa menandingi mereka? Atau, siapa yang bisa melawan mereka? Atau ucapan seperti itu.’

Maka diwahyukan kepadanya, ‘Pilihlah satu dari tiga perkara untuk kaummu: Kami biarkan musuh dari selain mereka  menguasai mereka, atau kelaparan atau kematian.’ Maka Nabi itu bermusyawarah dengan kaumnya dan mereka berkata, ‘Engkau adalah nabiyullah, engkau yang memutuskan. Pilihlah untuk kami.’ Lalu dia mendirikan shalat setiap kali mereka sedang menghadapi urusan penting. Mereka mengatasinya melalui shalat. Maka dia shalat sesuai dengan kehendak Allah.”

Nabi melanjutkan, “Kemudian dia berkata, ‘Ya Rabbi,  adapun musuh dari selain mereka, maka jangan. Adapun kelaparan, maka jangan. Akan tetapi aku memilih kematian.’ Lalu kematian dikirim kepada mereka, dan yang mati di kalangan mereka sebanyak tujuh puluh ribu.” Nabi bersabda, “Bisikanku yang kalian perhatikan itu adalah aku berkata, ‘Ya Allah, dengan-Mu aku berperang, dengan-Mu aku melawan dan tiada daya dan kekuatan kecuali Allah.'”

Takhrij Hadis

Syaikh Albani dalam Silsilah Al-Ahadis Ash-Shahihah, 5/588 no. 2455. berkata, “Diriwayatkan oleh Ahmad (6/16), Abdurrahman  bin Mahdi menyampaikan kepada kami, Sulaiman bin Al-Mughirah menyampaikan kepada kami dari Tsabit bin Abdurrahman bin Abi Laila dari Suhaib berkata, aku berkata, “Sanad ini shahih di atas syarat Syaikhain, didukung oleh riwayat Ma’mar dari Tsabit Al-Bunani yang sejenis tanpa doa, yang di akhir hadis dan riwayat lain dan tambahannya adalah tambahannya.” Dia menambahkan, “Dan jika dia menyampaikan hadis ini, dia pun menyampaikan hadis yang lain bahwa ada seorang raja dan raja itu memiliki seorang dukun..” hadis selengkapnya.

Diriwayatkan oleh Tirmidzi (2/236-237). Diriwayatkan oleh Muslim (8/229-231) dan Ahmad dalam riwayatnya (1/16-17) dari jalan Hammad bin Salamah: Tsabit menyampaikan kepada kami tanpa hadis yang pertama, dan Tirmidzi berkata, “Hadis hasan gharib.”

Aku berkata, “Dan sanadnya di atas syarat Syaikhain juga.”

Hadis ini disebutkan pula oleh Syaikh Nashir (Al-Bani) dalam Ash-Shaihah (3/50), no. 1061. Dia berkata tentang  takhrijnya, “Diriwayatkan oleh Ibnu Nashr dalam Ash-Shalah (2/35) Ishaq bin Ibrahim menyampaikan kepada kami, Abu Usamah memberitakan kepada kami, Sulaiman bin Al-Mughirah menyampaikan kepada kami dari Tsabit Al-Bunani dari Abdurrahman bin Abu Laila dari Suhaib, lalu dia menyebutkan hadisnya.

Aku berkata, “Ini adalah sanad shahih di atas syarat Syaikhani.”

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad (4/33, 6/16) dari dua jalan yang lain dari Sulaiman bin Al-Mughirah dan dari jalan Hammad bin Salamah. Tsabit menyampaikan kepada kami hadis senada dengannya, dan di dalamnya terdapat tambahan bahwa shalat itu adalah shalat shubuh, dan berbisik itu terjadi sesudah shalat pada hari-hari perang Hunaian. Dan Darimi meriwayatkan darinya (2/217) ucapannya, “Ya Allah, dengan-Mu aku berusaha, dengan-Mu aku melawan, dan dengan-Mu aku berperang.”

Dan sanad keduanya shahih di atas syarat Muslim.

Penjelasan Hadis

Rasulullah memberitakan kepada kita di dalam hadis ini kisah tentang seorang nabiyullah dengan umat yang besar jumlanya dan tangguh. Dia melihat pemberian Allah ini dan takjub dengan apa yang dilihatnya. Dalam dirinya muncul kekaguman bahwa tidak ada yang mampu menghadapi umatnya, tidak ada yang bisa mengalahkannya.

Semestinya orang yang menduduki kursi kenabian tidak boleh bersikap demikian, karena ujub dengan diri sendiri atau dengan anak atau harta atau umat adalah penyakit yang buruk. Seorang mukmin dalam menghadang musuhnya tidak tertipu oleh bala tentaranya yang banyak, tidak kecut dengan bala tentaranya yang sedikit, karena kemenangan hanya dari Allah semata. “Dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah.” (Ali Imran: 126). “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah: 249).

Kadangkal membanggakan jumlah yang besar justru menjadi penyebab kekalahan. “Dan (ingatlah) peperangan Hunaian, yaitu pada waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai.” (At-Taubah: 25).

Nabi ini dihukum pada kaumnya. Allah meminta kepadanya untuk memilih bagi umatnya satu dari tiga perkara. Dibiarkannya musuh dari selian mereka menguasasi mereka atau kelaparan atau kematian.

Aku bertanya pada diriku sendiri, rahasia apakah gerangan sehingga nabi itu disuruh memilih satu dari tiga perkara. Maka aku mendapati bahwa satu dari tiga hal itu bisa melemahkan, bahkan melenyapkan kekuatan sebuah umat. Ia menghilangkan ujub yang ada di hati nabi itu dan umatnya. Jika Allah menguasakan musuh dari selain mereka terhadap mereka,  maka musuh itu akan menghinakan dan merenggut kehormatan mereka. Jika kelaparan yang menimpa, maka kekuatan mereka lenyap dan mudah untuk dikalahkan. Jika mati, maka jumlah mereka berkurang.

Memilih satu dari tiga perkara adalah perkara yang membingungkan dan perlu pertimbangan yang matang. Nabi ini telah berunding dengan umatnya dan mereka menyerahkan perkara itu kepadanya, karena dia adalah nabiyullah. Para nabi diberi petunjuk dan langkahnya adalah lurus.

Pilihan nabi ini cukup tepat. Dia memilih kematian, bukan kelaparan atau kekuasaan musuh atas mereka. Jika seseorang yang hanya menimbang dengan tolak ukur dunia, niscaya dia memilih lain dari apa yang dipilihnya oleh nabi itu.

Mungkin sebagian orang yang berpikiran dangkal berpendapat bahwa pilihan tepat adalh dikuasakannya musuh atas mereka, karena merka akan tetap hidup walaupun musUh bisa saja membunuh sebagian dari mereka. Akan tetapi nabi ini tidak rela jika kaumnya  dihina dan diinjak-injak. Dan pembunuhan tidak bisa terelakkan jika musuh mereka menguasai mereka.

Kelaparan adalah perkara berat. Bisa jadi kelaparan menjadi penyebab kalahnya mereka  dari musuh mereka, bahkan mungkin banyak yang mati karenanya.

Memilih kematian adalah memilih sesuatu yang pasti datang. Siapa yang hari ini tidak mati, maka dia akan mati besok atau lusa, tidak ada tempat berlari  dan berlindung darinya.

Nabi ini memilih kematian buat umatnya. Orang-orang yang kembali kepada Tuhan mereka diharapkan bisa diterima di sisi-Nya, dan orang-orang yang hidup sesudah  mereka diharapakan bisa mengambil pelajaran dari apa yang terjadi pada mereka. Bisa jadi setelah mereka mati, Allah memberi ganti dalam jumlah yang banyak jika Dia berkehendak. Segala perkara berada di tangan Allah.

Nabi ini shalat. Begitulah para nabi dan orang-orang shaleh manakala menghadapi perkara besar, mereka berdiri shalat. Maka dia shalat sebagaimana dikehendaki oleh Allah untuk shalat. Lalu Allah memberinya taufik untuk memilih perkara yang paling ringan. Dia berkata kepada Tuhannya, “Adapun musuh dari selain mereka, maka jangan. Kelaparan juga jangan, akan tetapi kematian.”

Kematian menyebar di kalangan mereka seperti api yang menyebar di hamparan rumput kering. Satu persatu wafat. Kematian menjemput dan membinasakan generasi yang tumbuh. Dalam satu hari ada tujuh puluh ribu yang wafat.

Akibat dari ujub yang ada pada nabi ini kepada kaumnya sangatlah mengerikan. Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam khawatir seperti ini bisa menimpa para sahabatnya. Maka beliau berbisik setelah shalat,“Ya Allah, dengan-Mu aku berusaha, dengan-Mu aku melawan, dan dengan-Mu aku berperang.” Dan beliau mengingat kisah nabi ini, maka beliau berdoa dengan doa seperti di atas kepada Allah, mengumumkan ketidakmampuan dan ketidakberdayaan serta hanya bergantung kepada kekautan dan daya para sahabatnya. Dalam menghadapi musuh nabi berperang  kepada Allah semata, tanpa selain-Nya. Hanya dari-Nya pertolongan dan kemenangan, dan tiada daya dan kekuatan kecuali hanya dengan-Nya.

Pelajaran-Pelajaran dan Faedah-Faedah Hadis

1.      Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam memberi pengertian kepada para sahabatnya tentang sebab-sebab kelemahan dan kebinasaan, di antaranya adalah ujub terhadap diri sendiri.

2.      Akibat ujub sangatlah mengerikan, sebagaimana yang terjadi pada umat Nabi tersebut. Hal itu karena ujub melemahkan tawakal dan berpijak kepada Allah, serta menjadika seseorang hanya bergantung keapa sebab-sebab materi.

3.      Hendaknya para pemimpin, para panglima dan para pengendali urusan harus waspada. Jangan sampai Allah menurunkan apa yang telah Allah timpakan  kepada kaum nabi ini. Pada zaman ini kita sering melihat dan mendengar banyakanya kekaguman para pemimpin dan panglima terhadap tentara dan pengikut mereka.

4.      Bisa jadi sebab turunnya ujian adalah sesuatu yang samar, hanya diketahui oleh orang yang mengerti agama Allah. Musibah ini bisa menimpa kaum shalih  yang berjihad, sementara mereka tidak mengetahui dari mana sebabnya.

5.      Adanya umat yang baik dalam jumlah besar sebelum kita. Pada kalangan mereka terdapat orang-orang yang berperang dan berjihad di jalan Allah. Adalm rentang waktu yang pendek, jumlah orang yang mati mencapai tujuh puluh ribu orang.

6.      Seorang muslim dianjurkan untuk melaksanakan shalat jika mendhadapi suatu perkara besar. Semoga Allah membimbingnya kepada pilihan yang paling lurus.  Termasuk hal ini adlah istikharah yang disyariatkan leh Allah setelah dua rakaat.

7.      Dalam perkara yang diharuskan memilih seorang muslim hendaknya tidak tergesa-gesa. Dia harus bermusyawarah seperti yang dilakukan oleh Nabi ini. Dia harus memikirkan dengan matang, menimbang antara pilihan-pilihan yang ada. Dia harus berdoa kepada Allah agar memberinya taufik sehingga bisa memilih dengan benar.

Sumber: diadaptasi dari DR. Umar Sulaiman Abdullah Al-Asyqar, Shahih Qashashin Nabawi, atau Ensklopedia Kisah Shahih Sepanjang Masa, terj. Izzudin Karimi, Lc. (Pustaka Yassir, 2008), hlm. 205-211.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s