Berbakti Kepada Orang Tua

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak.” (QS. An-Nisa`: 36)

Manusia yang paling berjasa terhadap seseorang adalah kedua orang tua. Melalui keduanya Allah mentakdirkan keberadaannya. Ibunya yang telah mengandungnya selama sembilan bulan dengan penuh susah payah. Ibunya yang telah menyusuinya selama masa yang telah dikehendaki oleh Allah. Ibunya yang mengasuhnya, merawatnya dan menyayanginya semasa kecilnya. Demikian juga ayahnya yang membanting tulang untuk memenuhi segenap kebutuhannya, dan mendidiknya hingga dewasa. Ayahnya yang memlindunginya dari berbagai mara bahaya.

Berbagai jasa orang tua diberikan kepada anak sejak di dalam kandungan hingga ia lahir, dan berkembang menjadi dewasa. Semua itu diberikan oleh orang tua tanpa mengharapkan balasan apa-apa dari si anak. Bahkan ketika dewasa pun orang tua tidak serta merta melepasnya, tetapi tetap membantu menyelesaikan segala persoalan hidupnya.

Banyaknya jasa orang tua itulah maka Islam menempatkan sikap hormat kepada orang tua sebagai kedudukan kedua setelah Allah. Banyak ayat dan hadis yang menjelaskan bahwa hormat dan berbakti kepada orang tua memiliki kedudukan yang tinggi.

Allah swt. berfirman: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah:”Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (QS. Al-Isra`: 23-24)

Diriwayatkan dari Abu Abdurrahman bin Masud ra. dia berkata “aku bertanya kepada Nabi saw. perbuatan apakah yang paling dincintai Allah Swt. beliau menjawab “Shalat tepat pada waktunya. Aku bertanya kemudian apa? Beliau menjawab berbakti kepada kedua orang tua, aku berkata kemudian apa? Beliau menjawab jihad di jalan Allah.” (HR. Bukhari)

Ayat-ayat dan hadis-hadis yang memerintahkan umat Islam untuk berbuat baik kepada orang tua sangat banyak, terlalu panjang untuk disebutkan satu per satu.

Perbuatan terbaik yang bisa dilakukan oleh seorang anak kepada orang tua adalah mentaatinya dalam hal-hal yang tidak bertentangan dengan syari’at Allah, mendengarkan nasihatnya, tidak mengatakan kata-kata yang kasar dan beradab yang santun terhadap keduanya, menuruti keinginan mereka, dan berkhidmah kepada mereka.

Sebagai bentuk pelaksanaan terhadap perintah Allah yang diungkapkan dengan kata wa qadla di dalam ayat di atas, maka orang yang berbakti kepada orang tua akan mendapatkan pahala yang besar. Sebaliknya, durhakan kepada orang tua adalah perbuatan yang bernilai dosa besar. Maka sangat rugi seseorang yang masih menjumpai kedua orang tuanya tetapi tidak bisa mendapatkan pahala besar dengan berbuat baik kepada keduanya. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. dia berkata bahwa Rasulallah saw. bersabda:

“Sungguh hina, dan sungguh hina, lalu sungguh hina orang yang mendapatkan kedua orang tuanya ketika sudah tua, salah satu atau keduanya, lalu orang itu tidak dapat masuk surga.” (HR. Muslim)

Untuk memberikan gambaran sikap hormat seorang anak kepada orang tua, marilah kita menyaksikan tindakan kaum muslimin di masa awal. Kita perlu melihat kehidupan di masa Islam masih tampil dalam situasi yang real, sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah saw.

Di dalam kehidupan kaum salaf ada sebuah kisah, Abu Ghassan adl-Dlabbi keluar di bawah terik matahari yang cukup panas. Sementara itu, ayahnya berjalan di belakangnya. Di tengah jalan ia bertemu dengan Abu Hurairah, lalu ia bertanya, “Siapakah yang berjalan di belakangmu?” Abu Ghassan menjawab, “Ayahku”. Maka Abu Hurairah berkata, “Kau telah melakukan kesalahan dan menyalahi sunnah rasulullah saw. Kamu berjalan di muka ayahmu itu adalah meruakan tindakan kurang ajar. Berjalanlah seiring dengan ayahmu, atau bahkan di belakang ayahmu. Janganlah kau menatap wajah ayahmu dengan pandangan yang tajam, tetapi tunduklah di hadapannya. Jangan kau duduk sebelum dia duduk, dan jangan tidur sebelum dia berangkat tidur.

Demikianlah, sebuah gambaran yang indah dalam tatanan kehidupan berkeluarga telah diletakkan oleh Islam. Tetapi tatanan itu kini banyak dirusak oleh arus modernisasi dan liberalisasi. Sehingga kini kita saksikan banyak anak yang memaki-maki orang tua, pergi dari rumah, dan bahkan tega membunuhnya hanya karena berselisih pendapat dengan orang tua. Sebuah tindakan durhaka, yang diancam dosa yang sangat besar.

Dari Anas bin Malik, ia berkata, “Rasulullah saw pernah ditanya tentang dosa-dosa besar, maka beliau menjawab, “Syirik kepada Allah, membunuh jiwa tanpa haq, dan durhaka kepada orang tua”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s